Berjiwa Pemimpin

Bila kita mendengar kata berjiwa pemimpin, pasti yang kita bayangkan adalah seorang kepala instansi, atau orang yang memiliki pangkat. Tapi devinisi itu SALAH. Setiap orang berhak berjiwa pemimpin. Pemimpin bukan hanya pengatur suatu institusi, tapi juga dirinya sendiri dan orang disekitarnya, walaupun tidak memiliki pangkat. Disatu sisi, orang - orang seperti ini sering dikatakan " Sok Ngatur" atau "Tukang Perintah". Ini adalah salah satu ciri - ciri kecuekan sosial yang hanya memandang orang dari jabatan dan ingin bertindak asal "mereka senang".

Bagaimana orang yang ingin menjadi pemimpin atau berjiwa pemimpin? Mereka harus memiliki sifat:
1. Inisiatif
2. Rasa tanggung jawab
3. Pendirian teguh, konsekwen membela prinsip
4. Keberanian ( kemauan keras memperjuangkan sesuatu )
5. Ketegasan serta kecepatan berpikir, berkeputusan dan bertindak
6. Kejujuran serta rasa keadilan (sportivitet)
7. Cukup semangat dan kesediaan berkorban
8. Sifat sifat pelindung
9. Tahu menghargai jasa
10. Penuh nilai tauladan dalam pikiran maupun tindakan

Selain itu, pemimpin harus didukung oleh:
1. WIBAWA
Pemimpin akan disegani jika ia memiliki kharisma dan wibawa. Sehingga tidak dianggap remeh dan sebelah mata
2. PENGARUH
Ini sama saja diartikan seorang raja harus memiliki istana untu mendapat status raja. begitu pula pemimpin. Jika ia hanya mengikuti orang lain ia disebut "boneka". Karena secara de facto ia tidak memiliki pengaruh apapun.
3. CITRA
Ini mungkin yang dianggap paling penting oleh beberapa orang. Kata seorang pengamat politik, citra dapat menutupi semua yang dilakukannya. Jadi, citra bagai "kaca film". Citra juga dapat memainkan pikiran orang - orang untuk mendukung dia. Jadi citra juga berhubungan dengan popularitas. Seburuk apapun orang tersebut, pasti akan didukung atau dibela seburuk apapun yang ia lakukan.

Selain diatas, pemimpin juga harus memiliki sifat dan sikap:
1. Pengetahuan umum yang luas, semakin tinggi kedudukan seseorang dalam hirarki kepemimpinan organisasi, ia semakin dituntut untuk mampu berpikir dan bertindak secara generalis.
2. Kemampuan untuk tumbuh dan berkembang dalam memajukan organisasi.
3. Sikap yang intuitif atau rasa ingin tahu, merupakan suatu sikap yang mencerminkan dua hal: pertama, tidak merasa puas dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki; kedua, kemauan dan keinginan untuk mencari dan menemukan hal-hal baru.
4. Kemampuan Analitik, efektifitas kepemimpinan seseorang tidak lagi pada kemampuannya melaksanakan kegiatan yang bersifat teknis operasional, melainkan pada kemampuannya untuk berpikir. Cara dan kemampuan berpikir yang diperlukan adalah yang integralistik, strategik dan berorientasi pada pemecahan masalah.
5. Daya ingat yang kuat, pemimpin harus mempunyai kemampuan inteletual yang berada di atas kemampuan rata-rata orang-orang yang dipimpinnya, salah satu bentuk kemampuan intelektual adalah daya ingat yang kuat.
6. Kapasitas integratif, pemimpin harus menjadi seorang integrator dan memiliki pandangan holistik mengenai orgainasi.
7. Ketrampilan berkomunikasi secara efektif, fungsi komunikasi dalam organisasi antara lain : fungsi motivasi, fungsi ekspresi emosi, fungsi penyampaian informasi dan fungsi pengawasan.
8. Keterampilan Mendidik, memiliki kemampuan menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bawahan, mengubah sikap dan perilakunya dan meningkatkan dedikasinya kepada organisasi.
9. Rasionalitas, semakin tinggi kedudukan manajerial seseorang semakin besar pula tuntutan kepadanya untuk membuktikan kemampuannya untuk berpikir. Hasil pemikiran itu akan terasa dampaknya tidak hanya dalam organisasi, akan tetapi juga dalam hubungan organisasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan di luar organisasi tersebut.
10. Objektivitas, pemimpin diharapkan dan bahkan dituntut berperan sebagai bapak dan penasehat bagi para bawahannya. Salah satu kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemudikan organisasi terletak pada kemampuannya bertindak secara objektif.
11. Pragmatisme, dalam kehidupan organisasional, sikap yang pragmatis biasanya terwujud dalam bentuk sebagai berikut : pertama, kemampuan menentukan tujuan dan sasaran yang berada dalam jangkauan kemampuan untuk mencapainya yang berarti menetapkan tujuan dan sasaran yang realistik tanpa melupakan idealisme. Kedua, menerima kenyataan apabila dalam perjalanan hidup tidak selalu meraih hasil yang diharapkan.
12. Kemampuan Menentukan Prioritas, dengan membedakan hal yang Urgen dan yang Penting
13. Naluri yang Tepat, kemampuannya untuk memilih waktu yang tepat untuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu.
14. Rasa Kohesi yang tinggi, :senasib sepenanggungan”, ketertarikan satu sama lain.
15. Rasa Relevansi yang tinggi, pemimpin tersebut mampu berpikir dan bertindak sehingga hal-hal yang dikerjakannya mempunyai relevansi tinggi dan langsung dengan usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi.
16. Keteladanan, seseorang yang dinilai pantas dijadikan sebagai panutan dan teladan dalam sikap, tindak-tanduk dan perilaku.
17. Menjadi Pendengar yang Baik, tidak terlalu cepat memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.
18. Adaptabilitas, kepemimpinan selalu bersifat situasional, kondisional, temporal dan spatial.
19. Fleksibilitas, mampu melakukan perubahan dalam cara berpikir, cara bertindak, sikap dan perilaku agar sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi tertentu yang dihadapi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip hidup yang dianut oleh seseorang.
20. Ketegasan, keberanian, orientasi masa depan serta sikap yang antisipatif dan proaktif.

Begitulah seorang pemimpin. Apabila ada yang tidak bisa menjadi pemimpin (jabatan), orang berjiwa pemimpin juga harus bisa dipimpin agar tidak ada aksi "musuh dalam selimut" yang dapat menghancurkan segalanya.

0 komentar:

Poskan Komentar